Selasa, 29 Maret
2010
Pagi
ini harus semangat untuk berjuang, mengingat pengalaman kemarin berebut nak
masuk bus, kali ini awak harus bisa lolos dengan mulus dan licin macam belut.
Wah...tumben...lumayan agak sedikit jumlah penumpang yang menunggu bus.
Ooo...pantas aje tak berebut, rupe-rupenye jarak bus yang datang tidak terlalu
lamo.
Naik
halte TU GAS, hanya terisi seperempat penumpang. Naik lagi penumpang dari halte
Layur, Rawamangun, Velodrome...eh...eh...makin lamo, makin banyak penumpang
yang masuk. Pas didepan awak, emak-emak pulak, karena kesejatian awak sebagai
seorang wanita dewasa, awak persilahkan duduk, awak pun sibuk bergelantungan.
Dah
nak sampai halte Matraman, orang-orang dah penuh sesak. Susah juga nak
bergerak. Tiba-tiba...adoy...karena tubuh awak yang pendek ni tau-tau kepala
dah kena sikut ajo. Pas awak tengok, suailah, sebelah awak pria yang cukup
tinggi dan tangan dia yang bergelantungan menekuk dan ujung sikutnya agak-agak
mendekati kepala awak.
Hik...hik...nasib...awak
cubo bergeser pun, ternyata awak diapit samo-samo pria yang memiliki postur
tubuh yang menjulang. Awak hanya bisa menundukkan kepala sedikit dan selalu
berharap pramudi tak sering genjot gas asal-asalan, karena setiap pramudi rem
mendadak dan mulai menginjak gas lagi, karena orang-orang yang penuh sesak,
terhuyung-huyung dan terdorong kesana-kemari, disetiap itu pulak kepala awak selalu
tercium sikut, Apa orang-orang yang nyikut ni tak terasa kalo ada budak kecik nan
imut ini? akhirnya lamo-lamo mereka pun sadar dan merubah posisi agar
ujung-ujung sikut mereka tak selalu mampir dikepala awak. Tapi walaupun sudah
tak diterjang ujung sikut tetap saje merane karena pemumpang yang penuh sesak,
setiap bus berhenti dan melanjutkan perjalanan pasti tubuh ni terhuyung-huyung,
kadang-kadang hampir nak terjatuh. Untung aja karena keadaan yang penuh sesak,
tubuh ni berimpitan dan selalu ikut kemana arah tubuh-tubuh lain yang mengapit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar