Rabu, 30 Maret 2010
Adoiiii...pulang
kerja kali ni lewat jam lima sore., kalo tak buru-buru Pulo Gadung Express (bus
dari Ragunan langsung menuju Matraman tanpa berhenti di halte Halimun setelah
melewati halte Latu HarHari) terlewat pulak. Butuh waktu kira-kira sepuluh
menit dari kantor awak menuju halte bus Warung Jati.
Alhamdulillah,
pas selesai beli tiket, pas pulak bus Pulo Gadung Express tiba. Lumayan,
walaupun sudah penuh tapi tak terlalu berdesak-desakkan. Tapi, lagi-lagi
perkiraan awak meleset, setelah melewati beberapa halte bus dan memasuki halte
Departemen Kesehatan, orang-orang dah macam dalam kaleng sarden. Bus Pulo
Gadung Express ni memang sangat primadona, setiap penumpang yang tau, pasti berebut
nak naik, padahal selisih waktunya tak jauh beda dengan bus lain yang transit
ke halte Halimun dulu.
Dah melewati halte Latu HarHari
penumpang tambah banyak saje, himbauan petugas bus untuk tidak naik lagi tetap
tak digubris, awak yang sudah dalam keadaan terjepit lamo-lamo serasa tak napak
lagi, entak kaki siapa yang awak injak ni. Belum lagi aroma ketek pria di
sebelah kiri awak (untung awak selalu pake masker, jadi baunya agak-agak samar)
dan apo tu? Pemandangan depan awak seram sangat, cewek cantik nan bersih tapi
sayang karena hawa yang lumayan gerah (kalau dah saking penuhnya, AC pun dah
tak ado sejuk-sejuknya, awak pun dah mulai berpeluh), bagian keteknya basah dan
baju dibagian keteknya tu pun ado bolong-bolong kecil pulak. Inilah pemandangan
kalo lagi bergelantungan, belum lagi besi untuk pegangan tangan bisa satu untuk
berdua dan bahkan ada dua besi pegangan tangan disabotase untuk satu orang.
Payah...payah, padahal awak juga agak-agak susah berpegangan kalo tak dapat
pegangan dibesi dekat depan pintu.
Besok siksaan
apalagi yang awak terima, dah nak sampai halte Manggarai pun penumpang tetap
penuh, kejap lagi sampai halte Matraman, mudah-mudah banyak penumpang yang
turun, supaya kaki awak ni bisa napak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar